Delapan Fakta Tentang Aurora
Aurora merupakan sebuah fenomena alam yang terjadi akibat medan magnet bumi yang berinteraksi dengan partikel bermuatan dari matahari.
Aurora
terjadi saat proton dan elektron mengalir keluar dari permukaan
matahari dan terhempas ke Medan magnet bumi. Karena bermuatan,
partikel-partikel tersebut bergerak di spiral sepanjang garis medan
magnet. Partikel proton bergerak searah dan elektron berlawanan arah.
Kemudian partikel tersebut menghantam atmosfer. Karena mereka mengikuti
garis Medan magnet, kebanyakan dari mereka memasuki gas-gas atmosfer di
lingkaran sekitar kutub-kutub magnet.
Aurora berpusat di kutub
magnetik bumi, terlihat di lingkaran sekitarnya. Karena kutub magnetik
dan geografis tidak sama, terkadang aurora terlihat lebih jauh ke
selatan daripada yang diharapkan, sementara di tempat lain aurora
terlihat lebih jauh ke utara.
Di belahan utara, zona aurora
terbentang sepanjang pantai utara Siberia, Skandinavia, Islandia, ujung
utara Kanada, Greenland dan Alaska. Zona aurora belahan bumi selatan
sebagian besar meliputi Antarktika atau Samudera Selatan. Berikut ini
adalah beberapa fakta tentang aurora yang mempesona.
1. Perbedaan ion menghasilkan warna yang berbeda
Udara
terdiri dari sejumlah besar atom nitrogen dan oksigen. Oksigen menjadi
komponen yang lebih besar di ketinggian Aurora terjadi (sekitar 60-600
mil). Saat partikel bermuatan menghantam udara, udara mendapatkan
energi. Ketika mulai tenang, udara melepaskan energi dan foton dengan
panjang gelombang tertentu. Atom oksigen memancarkan cahaya hijau dan
kadang-kadang merah, sementara nitrogen lebih oranye atau merah.
2. Dapat terlihat dari ruang angkasa
Rodney
Viereck, Direktur Uji Dasat Prediksi Cuaca Ruang Angkasa di National
Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), mengatakan satu-satunya
waktu penting selama badai matahari yang sangat intens, yaitu ketika
tingkat radiasi tinggi. Pada saat itu astronaut harus pindah ke daerah
stasiun yang lebih terlindungi. Badai matahari intens dapat mengurangi
jumlah radiasi di sekitar stasiun ruang angkasa, karena partikel
bermuatan justru berinteraksi dengan medan magnet bumi. Sementara itu,
para astronaut dapat menyaksikan panorama Aurora yang cantik.
3. Aurora juga dimiliki planet lain
Tak
hanya bumi, planet lain pun memiliki aurora. Aurora pada Jupiter atau
Saturnus jauh lebih besar dan lebih kuat daripada di bumi. Karena medan
magnet planet-planet tersebut berkali lipat lebih intens.
Di
Uranus, aurora tampak lebih aneh, karena medan magnet planet
berorientasi secara vertikal, akan tetapi planet berputar pada sisinya.
Ketika dilihat dengan teleskop ruang angkasa Hubble di tahun 2011,
alih-alih terlihat seperti cincin cerah seperti di planet lain, aurora
di planet Uranus lebih terlihat seperti satu titik terang.
4. Cahaya Aurora dapat berpindah ke selatan
Terkadang
aurora terlihat lebih jauh dari kutub dibanding biasanya. Pada saat
aktivitas matahari tinggi, batas selatan untuk melihat aurora bisa
mencapai selatan Oklahoma dan Atlanta, seperti yang terjadi pada bulan
Oktober 2011. Viereck mengatakan, dibanding seabad lalu, saat ini lebih
sulit untuk memberitahu ketika aurora sangat cerah. Karena begitu banyak
orang Amerika yang tinggal di kota, dan cahaya lampu menghalangi aurora
terlihat. "Bisa saja badai aurora mayor terjadi di kota New York, dan
meskipun menengadah ke langit, Anda tidak akan melihatnya," katanya.
5. Penanda Firasat
Bangsa
Inuit, yang melihat aurora lebih sering, menganggap cahaya aurora
sebagai roh-roh yang bermain di langit. Beberapa dari mereka akan
memberitahu anak-anak agar tidak bermain di luar pada malam hari,
karena aurora akan menghilang dan membawa pergi mereka.
Di belahan bumi selatan, orang-orang Maori dan Aborigin Australia menganggap aurora sebagai kebakaran di dunia roh.
Anehnya,
sastra Nordik dan Icelandic lama tampaknya tak banyak menyebutkan
tentang aurora. Bangsa Viking menganggap aurora mungkin kebakaran yang
mengelilingi ujung dunia, emanasi lidah api dari es kutub utara, atau
refleksi dari matahari ketika melintasi sisi lain bumi. Ketiga
pemikiran tersebut dianggap rasional, penjelasan non supranatural pada
periode abad pertengahan.
6. Api yang Dingin
Aurora
terlihat seperti api, akan tetapi tak terasa seperti api. Meskipun
suhu di atas atmosfer dapat mencapai ribuan derajat Fahrenheit, panas
didasarkan pada kecepatan rata-rata dari molekul. Kepadatan udara
begitu rendah saat aurora terjadi di ketinggian 60 mil (96 kilometer) ke
atas, sehingga termometer akan mencatat suhu jauh di bawah nol.
7. Kamera melihat aurora lebih baik
Aurora
relatif redup, dan cahaya yang lebih merah sering berada di batas
dimana retina manusia dapat menangkapnya. Meskipun seringkali lebih
sensitif, dengan pengaturan long-exposure dan langit yang benar-benar gelap, anda dapat mendapatkan beberapa gambar yang spektakuler dengan menggunakan kamera.
8. Fenomena aurora tak dapat di prediksi
Salah satu masalah yang paling sulit dalam Fisika surya adalah mengetahui bentuk Medan magnet di lontaran massa Korona atau Coronal Mass Ejection
(CME), yang pada dasarnya adalah gumpalan besar dari partikel bermuatan
yang dikeluarkan dari matahari. Lontaran massa korona tersebut memiliki
magnet mereka sendiri. Masalahnya, hampir mustahil untuk mengetahui
kemara medan lontaran menuju hingga terjadi tabrakan. Tabrakan
menciptakan badai magnetik yang spektakuler dan menghasilkan aurora yang
mempesona, atau bisa saja gagal sama sekali.
Sumber: nationalgeographic.co.id
Post a Comment